let's go! Blog

Mengulas Kartun, Membincangkan Humor dan Kritik | April 27, 2009

Mengulas Kartun, Membincangkan Humor dan Kritik

KRITIK dan kartun sepertinya sudah menjadi hal yang sulit dipisahkan. Oleh karenanya banyak orang berasumsi bahwasanya kritik adalah anasir yang harus ada pada sebuah kartun. Tidak ada kritik, ya bukan kartun. Begitulah opini tentang kartun yang berkembang dan menggejala pada masyarakat.

Ini terlihat dari opini-opini yang bermunculan di media massa yang mengulas lawatan pameran kartun internasional “Bali is My Life” khususnya yang diadakan di Bali dan di Bentara Budaya Jakarta. Adalah hal yang menggembirakan ketika pameran kartun Bali is My Life yang digelar Pakarti periode Jango Paramartha ini mendapat tanggapan kritis dari media nasional. Ini artinya, sebagai sebuah momen pemulihan dan promosi pariwisata Bali, upaya ini ikut didukung oleh berbagai kalangan khususnya media dan sebagai sebuah aktualisasi kartunal, kritik dari media tersebut menjadi sebuah refleksi kesenimanan para kartunis dalam berkarya.

Ada sebuah opini disebuah media nasional yang sepertinya asyik untuk diperbincangkan di sini. Dengan latar klausa “kartun sebagai sebuah refleksi sosial”, opini tersebut kemudian berlanjut mencibir para kartunis yang melihat Bali dari satu segi saja, “turisme”. Dan tentu dengan segi ini, “magnum opus” para kartunis kurang “tajam”. Kemudian opini media ini memberikan sebuah opsi tema, “konflik lokal” yang katanya oleh para peneliti dilihat sebagai sebuah cara pandang atas munculnya identitas ke-Bali-an yang mengeras.

Menurut kacamata saya, opini dari media tersebut secara implisit masih mempakemkan kartun sebagai sebuah media kritik seperti apa yang telah dikemukakan di atas. Sah-sah saja orang beropini dengan berbagai latar paradigma tapi marilah kita berbincang-bincang lebih mendalam. Bila tidak mengkerucutkan sebuah kebenaran, paling tidak kita mendapatkan wawasan. Mari kita teropong kesahihan dari opini “kartun-kritik” di atas.

Secara harfiah kartun itu berasal dari bahasa latin “cartoone” yang berarti gambar lucu. Di-Inggris-kan menjadi “cartoon” dan di-Indonesia-kan menjadi “kartun”. Pengertian ini saya temukan pada beberapa literatur seperti makalahnya Gus Martin untuk Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa yang berjudul, “Ilustrasi, Kartun dan Kartun”. Juga terlihat pada “biografi” kartunis besar Sibarani.

Jadi, pada dasarnya kartun adalah gambar lucu. Ini mungkin bisa menjelaskan lebih gamblang tentang kartun. Apapun bagaimanapun bentuk gambar yang penting memiliki sifat humor dan lucu itu bisa dikatakan kartun. Kemudian lebih panjang lagi kartunis sekaligus dosen IKJ, Pri S. pada sebuah seminar menjelaskan bahwasanya kartun itu terbentuk dari tiga unsur yang saling berkait satu sama lain, yaitu wawasan, olah rupa dan humor. Wawasan sebagai perspektif kartunis memandang tema, olah rupa sebagai bentuk komunikasi visual dan humor stimuli psikologis penikmat kartun.

Lalu mengapa ada kartun politik dalam wujud kartun editorial atau kartun strip yang sarat muatan kritik? Kartun adalah sebuah alat. Sekali lagi sebuah alat. Terserah Anda menggunakannya untuk apa. Seperti seperti sebuah pena yang bisa digunakan untuk membuat tulisan, menggambar bahkan dengan keruncingannya mampu menghilangkan nyawa seseorang. Kartun pernah menjadi senjata bagi Martin Luther King. Kartun juga bermetamorfosis menjadi Donald Bebek yang menggelitik. Kartun bisa menjadi seksi abis ditangan Cece Riberu. Kartun sangat antropologis di gurat kuas Jango Paramartha. Kartun begitu sosiologis di “Lagak Jakarta”-nya M. Misrad. Kartun begitu kritis lewat kacamatanya Pramono atau Gus Martin. Kartun menjadi kurang ajar di tingkah polah Sincan. Kartun bisa memicu ketersinggungan seperti sebuah kasus di Denmark. Atau sangat revolusioner di dapur redaksi Majalah Indonesia lewat kepalan tangan T. Sutanto”. Kalau sudah begini, kartun bisa menjadi apa saja.

Menurut Sekretaris Pakarti Putu Ebo, pada perkembangannya kartun bercabang menjadi dua kategori besar yaitu political cartoon (kartun politik) dan gag cartoon (kartun humor). Poltical cartoon inilah yang biasanya sarat dengan kritik. Sedangkan gag cartoon adalah kartun yang lebih mengedepankan unsur humor. Mungkin karena kartun politiklah yang selama ini sangat dekat dengan masyarkat lewat media masa (khususnya koran), orang sangat sangat cepat mengasosiasikan kartun itu sebagai kartun politik yang sarat dengan kritik, satir dan sarkasme.

Kartun memang mengundang berbagai macam pengertian. Ini dikarenakan kartun bermetamorfosis menjadi banyak bentuk. Ada yang mengatakan bahwa kartun seharusnya sarat kritik seperti dikatakan sebelumnya. Ada yang salah kaprah mengatakan kartun itu karikatur. Ada yang mengatakan bahwa kartun itu harus “kejam”. Kejam di sini adalah dramatisasi anasir kritik dan satir dalam kartun. Sehingga kartun bisa menjadi pisau haus darah yang siap melakukan pembunuhan-pembunuhan karakter di berbagai tempat. Melihat kartun seperti ini seperti melihat film “Scream”.

Atau masyarakat sering membebankan kartunis sebagai polisi moral yang dengan ini mengatakan harus ini dan harus itu. Atau diharapkan menjadi tokoh gerakan sosial yang bisa menyulap sebuah tatanan sosial menjadi tatanan tertentu. Untuk hal ini saya hanya bisa katakan bahwa kalau pun kartun punya tendensi, itu adalah tendensi bagaimana penikmat kartun (masyarakat) diajak tertawa dan berfikir, tidak menghakimi. Kartun hanya mengajak tertawa dan berfikir. Bila ada perubahan terhadap suatu tatanan sosial itu kembali kepada masyarakat sebagai penikmat kartun itu sendiri. Ini mungkin karena keterbatasan kartun dalam penyampaian wacana dibanding sebuah tulisan yang bisa dengan leluasa menjelaskan secara panjang lebar segala sesuatu. Kartun tidak bisa seperti itu. Kartun adalah sebuah labirin yang mengundang para penikmatnya untuk menemukan lorong keluarnya sendiri.

Keterbatasan kartun dalam mengumbar tekslah yang memicu adrenalin para kartunis dalam berkarya. Karena keterbatasan ini adalah sebuah jalan untuk membuat sebuah karya kartun yang mendalam dan implisit. Karya yang mendalam dan implisit ditenggarai justeru mampu memicu daya kontemplasi dan memacu jelajah imaji penikmat kartun lebih luas lagi. Karya kartun yang eksplisit dan vulgar bergitu terkesan garing. Kartun memiliki estetikanya sendiri. Seperti katanya kartunis Itok Is bahwa kartun bukan harus memaki-maki seperti pendemo di pingir jalan.

Kartun adalah sebuah pilihan yang didalamnya adalah pilihan juga, political cartoon,Gag Cartoon dan lain sebagainya. Mungkin political cartoon lebih seksi untuk dipajang dihadapan penikmat karena cita rasa intelektual dan aura kritisnya. Tapi mari kita bicarakan tentang gag cartoon. Gag cartoon dinisbahkan kepada kelucuan atau humor. Sudah barang tentu sebuah gag cartoon sudah seharusnya lucu atau membuat terpingkal-pingkal penikmatnya. Mungkin bagi banyak kalangan merasa bahwa humor suatu hal yang remeh-cemeh. Mungkin terlihat tidak intelektual banget. Tapi para psikolog saya yakin bisa menjelaskan bahwa tawa memiliki arti yang cukup besar bagi kesehatan jiwa. Sudah menjadi kisah yang akrab dengan kita bahwa tawa tidak hanya mampu menyehatkan psikis tapi juga mampu mendongkrak sistem faali manusia seperti apa yang di alami Norman Cousins yang melawan kanker yang diidapnya dengan humor. Karena banyak penyakit fisik yang diakibatkan oleh psikis, sudah barang tentu kita mengobati terlebih dahulu psikisnya dan kartun humor mungkin salah satu jawabannya.

Apalagi, ketika bunuh diri menjadi warta yang sangat intens kita dengar belakangan di daerah kita tercinta ini. Yang kita perlukan adalah daya atau energi untuk hidup dan energi itu banyak kalangan menyebutnya sebagai energi spiritual. Saya tertarik dengan bukunya Tony Buzan, “ The Power of Spiritual Intellegince, 10 Cara Jadi Orang yang Cerdas secara Spiritual”. Dalam buku Tony Buzan tersebut memasukkan humor sebagai bagian dari cara untuk cerdas secara spritual, Dengan pede-nya ia mengatakan, “Kartun yang disantap secara teratur setiap hari sama pentingnya dengan sebutir apel sehari!” Jadi tertawa itu penting juga, bukan. Bagaimana kalau kita memasukannnya sebagai bagian kurikulum pendidikan kita. Selain ada pelajaran olah raga juga ada pelajaran olah tawa …hee..he.

Kemudian, saya kira adalah sebuah hal yang logis ketika sebagian besar karya-karya kartun yang dipamerkan “Bali is My Life” memandang Bali hanya dengan perspektif turisme saja. Karena saya kira pameran yang diselenggarakan adalah sebuah recovery untuk pariwisata Bali yang lagi terpuruk. Jadi adalah hal yang wajar bila para kartunis menampilkan Bali sebagai sebagai pulau yang eksotis, indah dan tentu saja “lucu”. Ini hanya masalah pilihan tentu saja.

Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita semua tentang kartun lebih luas lagi sehingga dapat mengapresiasi karya-karya kartun lebih dalam lagi. Apalagi dalam dalam beberapa waktu kedepan ini, Pakarti akan mengikutkan sebuah pameran kartun bersekala internasional sebagai salah satu acara Sanur Festival 15 Agustus mendatang. Selamat tertawa……..”dan dunia akan ikut tertawa bersamamu,” kata Ella Wheller Wilcox. (isoul, http://www.cartoonesia.com)

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

About author

bastard

Cari

Navigasi

Kategori:

Links:

Archives:

Feeds

%d blogger menyukai ini: