let's go! Blog

Mengulas Kartun, Membincangkan Humor dan Kritik

Mengulas Kartun, Membincangkan Humor dan Kritik

KRITIK dan kartun sepertinya sudah menjadi hal yang sulit dipisahkan. Oleh karenanya banyak orang berasumsi bahwasanya kritik adalah anasir yang harus ada pada sebuah kartun. Tidak ada kritik, ya bukan kartun. Begitulah opini tentang kartun yang berkembang dan menggejala pada masyarakat.

Ini terlihat dari opini-opini yang bermunculan di media massa yang mengulas lawatan pameran kartun internasional “Bali is My Life” khususnya yang diadakan di Bali dan di Bentara Budaya Jakarta. Adalah hal yang menggembirakan ketika pameran kartun Bali is My Life yang digelar Pakarti periode Jango Paramartha ini mendapat tanggapan kritis dari media nasional. Ini artinya, sebagai sebuah momen pemulihan dan promosi pariwisata Bali, upaya ini ikut didukung oleh berbagai kalangan khususnya media dan sebagai sebuah aktualisasi kartunal, kritik dari media tersebut menjadi sebuah refleksi kesenimanan para kartunis dalam berkarya.

Ada sebuah opini disebuah media nasional yang sepertinya asyik untuk diperbincangkan di sini. Dengan latar klausa “kartun sebagai sebuah refleksi sosial”, opini tersebut kemudian berlanjut mencibir para kartunis yang melihat Bali dari satu segi saja, “turisme”. Dan tentu dengan segi ini, “magnum opus” para kartunis kurang “tajam”. Kemudian opini media ini memberikan sebuah opsi tema, “konflik lokal” yang katanya oleh para peneliti dilihat sebagai sebuah cara pandang atas munculnya identitas ke-Bali-an yang mengeras.

Menurut kacamata saya, opini dari media tersebut secara implisit masih mempakemkan kartun sebagai sebuah media kritik seperti apa yang telah dikemukakan di atas. Sah-sah saja orang beropini dengan berbagai latar paradigma tapi marilah kita berbincang-bincang lebih mendalam. Bila tidak mengkerucutkan sebuah kebenaran, paling tidak kita mendapatkan wawasan. Mari kita teropong kesahihan dari opini “kartun-kritik” di atas.

Secara harfiah kartun itu berasal dari bahasa latin “cartoone” yang berarti gambar lucu. Di-Inggris-kan menjadi “cartoon” dan di-Indonesia-kan menjadi “kartun”. Pengertian ini saya temukan pada beberapa literatur seperti makalahnya Gus Martin untuk Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa yang berjudul, “Ilustrasi, Kartun dan Kartun”. Juga terlihat pada “biografi” kartunis besar Sibarani.

Jadi, pada dasarnya kartun adalah gambar lucu. Ini mungkin bisa menjelaskan lebih gamblang tentang kartun. Apapun bagaimanapun bentuk gambar yang penting memiliki sifat humor dan lucu itu bisa dikatakan kartun. Kemudian lebih panjang lagi kartunis sekaligus dosen IKJ, Pri S. pada sebuah seminar menjelaskan bahwasanya kartun itu terbentuk dari tiga unsur yang saling berkait satu sama lain, yaitu wawasan, olah rupa dan humor. Wawasan sebagai perspektif kartunis memandang tema, olah rupa sebagai bentuk komunikasi visual dan humor stimuli psikologis penikmat kartun.

Lalu mengapa ada kartun politik dalam wujud kartun editorial atau kartun strip yang sarat muatan kritik? Kartun adalah sebuah alat. Sekali lagi sebuah alat. Terserah Anda menggunakannya untuk apa. Seperti seperti sebuah pena yang bisa digunakan untuk membuat tulisan, menggambar bahkan dengan keruncingannya mampu menghilangkan nyawa seseorang. Kartun pernah menjadi senjata bagi Martin Luther King. Kartun juga bermetamorfosis menjadi Donald Bebek yang menggelitik. Kartun bisa menjadi seksi abis ditangan Cece Riberu. Kartun sangat antropologis di gurat kuas Jango Paramartha. Kartun begitu sosiologis di “Lagak Jakarta”-nya M. Misrad. Kartun begitu kritis lewat kacamatanya Pramono atau Gus Martin. Kartun menjadi kurang ajar di tingkah polah Sincan. Kartun bisa memicu ketersinggungan seperti sebuah kasus di Denmark. Atau sangat revolusioner di dapur redaksi Majalah Indonesia lewat kepalan tangan T. Sutanto”. Kalau sudah begini, kartun bisa menjadi apa saja.

Menurut Sekretaris Pakarti Putu Ebo, pada perkembangannya kartun bercabang menjadi dua kategori besar yaitu political cartoon (kartun politik) dan gag cartoon (kartun humor). Poltical cartoon inilah yang biasanya sarat dengan kritik. Sedangkan gag cartoon adalah kartun yang lebih mengedepankan unsur humor. Mungkin karena kartun politiklah yang selama ini sangat dekat dengan masyarkat lewat media masa (khususnya koran), orang sangat sangat cepat mengasosiasikan kartun itu sebagai kartun politik yang sarat dengan kritik, satir dan sarkasme.

Kartun memang mengundang berbagai macam pengertian. Ini dikarenakan kartun bermetamorfosis menjadi banyak bentuk. Ada yang mengatakan bahwa kartun seharusnya sarat kritik seperti dikatakan sebelumnya. Ada yang salah kaprah mengatakan kartun itu karikatur. Ada yang mengatakan bahwa kartun itu harus “kejam”. Kejam di sini adalah dramatisasi anasir kritik dan satir dalam kartun. Sehingga kartun bisa menjadi pisau haus darah yang siap melakukan pembunuhan-pembunuhan karakter di berbagai tempat. Melihat kartun seperti ini seperti melihat film “Scream”.

Atau masyarakat sering membebankan kartunis sebagai polisi moral yang dengan ini mengatakan harus ini dan harus itu. Atau diharapkan menjadi tokoh gerakan sosial yang bisa menyulap sebuah tatanan sosial menjadi tatanan tertentu. Untuk hal ini saya hanya bisa katakan bahwa kalau pun kartun punya tendensi, itu adalah tendensi bagaimana penikmat kartun (masyarakat) diajak tertawa dan berfikir, tidak menghakimi. Kartun hanya mengajak tertawa dan berfikir. Bila ada perubahan terhadap suatu tatanan sosial itu kembali kepada masyarakat sebagai penikmat kartun itu sendiri. Ini mungkin karena keterbatasan kartun dalam penyampaian wacana dibanding sebuah tulisan yang bisa dengan leluasa menjelaskan secara panjang lebar segala sesuatu. Kartun tidak bisa seperti itu. Kartun adalah sebuah labirin yang mengundang para penikmatnya untuk menemukan lorong keluarnya sendiri.

Keterbatasan kartun dalam mengumbar tekslah yang memicu adrenalin para kartunis dalam berkarya. Karena keterbatasan ini adalah sebuah jalan untuk membuat sebuah karya kartun yang mendalam dan implisit. Karya yang mendalam dan implisit ditenggarai justeru mampu memicu daya kontemplasi dan memacu jelajah imaji penikmat kartun lebih luas lagi. Karya kartun yang eksplisit dan vulgar bergitu terkesan garing. Kartun memiliki estetikanya sendiri. Seperti katanya kartunis Itok Is bahwa kartun bukan harus memaki-maki seperti pendemo di pingir jalan.

Kartun adalah sebuah pilihan yang didalamnya adalah pilihan juga, political cartoon,Gag Cartoon dan lain sebagainya. Mungkin political cartoon lebih seksi untuk dipajang dihadapan penikmat karena cita rasa intelektual dan aura kritisnya. Tapi mari kita bicarakan tentang gag cartoon. Gag cartoon dinisbahkan kepada kelucuan atau humor. Sudah barang tentu sebuah gag cartoon sudah seharusnya lucu atau membuat terpingkal-pingkal penikmatnya. Mungkin bagi banyak kalangan merasa bahwa humor suatu hal yang remeh-cemeh. Mungkin terlihat tidak intelektual banget. Tapi para psikolog saya yakin bisa menjelaskan bahwa tawa memiliki arti yang cukup besar bagi kesehatan jiwa. Sudah menjadi kisah yang akrab dengan kita bahwa tawa tidak hanya mampu menyehatkan psikis tapi juga mampu mendongkrak sistem faali manusia seperti apa yang di alami Norman Cousins yang melawan kanker yang diidapnya dengan humor. Karena banyak penyakit fisik yang diakibatkan oleh psikis, sudah barang tentu kita mengobati terlebih dahulu psikisnya dan kartun humor mungkin salah satu jawabannya.

Apalagi, ketika bunuh diri menjadi warta yang sangat intens kita dengar belakangan di daerah kita tercinta ini. Yang kita perlukan adalah daya atau energi untuk hidup dan energi itu banyak kalangan menyebutnya sebagai energi spiritual. Saya tertarik dengan bukunya Tony Buzan, “ The Power of Spiritual Intellegince, 10 Cara Jadi Orang yang Cerdas secara Spiritual”. Dalam buku Tony Buzan tersebut memasukkan humor sebagai bagian dari cara untuk cerdas secara spritual, Dengan pede-nya ia mengatakan, “Kartun yang disantap secara teratur setiap hari sama pentingnya dengan sebutir apel sehari!” Jadi tertawa itu penting juga, bukan. Bagaimana kalau kita memasukannnya sebagai bagian kurikulum pendidikan kita. Selain ada pelajaran olah raga juga ada pelajaran olah tawa …hee..he.

Kemudian, saya kira adalah sebuah hal yang logis ketika sebagian besar karya-karya kartun yang dipamerkan “Bali is My Life” memandang Bali hanya dengan perspektif turisme saja. Karena saya kira pameran yang diselenggarakan adalah sebuah recovery untuk pariwisata Bali yang lagi terpuruk. Jadi adalah hal yang wajar bila para kartunis menampilkan Bali sebagai sebagai pulau yang eksotis, indah dan tentu saja “lucu”. Ini hanya masalah pilihan tentu saja.

Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita semua tentang kartun lebih luas lagi sehingga dapat mengapresiasi karya-karya kartun lebih dalam lagi. Apalagi dalam dalam beberapa waktu kedepan ini, Pakarti akan mengikutkan sebuah pameran kartun bersekala internasional sebagai salah satu acara Sanur Festival 15 Agustus mendatang. Selamat tertawa……..”dan dunia akan ikut tertawa bersamamu,” kata Ella Wheller Wilcox. (isoul, http://www.cartoonesia.com)

Iklan

Ditulis dalam Uncategorized

Potensi kartun dan animasi

Animasi biasanya identik dengan menggambar, meski tidak menutup kemungkinan untuk membuat animasi melalui medium lainnya seperti fotografi ataupun objek Hal ini terutama karena pada dasarnya animasi adalah menciptakan gerakan, dan cara termudah adalah dengan menggambar rangkaian gerakan.  Sehingga bisa dikatakan bahwa animasi adalah media berbasis kartun.  Kesamaan dalam visualisasi antara komik strip (yang dikenal juga sebagai kartun strip) dengan animasi membuat istilah film kartun menjadi semakin lekat dengan animasi.

Istilah film kartun sendiri memiliki nilai plus dan minus.  Nilai plusnya adalah karena kartun adalah cara menggambar yang biasanya menyederhanakan objeknya, menangkap esensi dari objek tersebut tetapi tetap mampu merepresentasikan objek orisinil-nya.  Justru karena penyederhanaan inilah yang membuat kartun menjadi mudah untuk diikuti dan direspon dibandingkan sesuatu yang secara visual, realistik. Hal ini disebabkan karena kartun adalah bentuk penguatan melalui penyederhanaan (amplification through simplification).  Dengan penyederhanaan, khususnya pada karakter, akan membuat pemirsa lebih mudah melakukan role playing dan menjadi ‘satu’ dengan karakter tersebut.  Hal inilah yang menyebabkan mengapa gambar-gambar kartun bisa disukai oleh beragam orang, melintasi batas usia hingga negara.  Akan lebih mudah untuk ‘mendengarkan’ apa yang dikatakan karakter kartun dibandingkan bila hal yang sama disampaikan oleh karakter yang terlihat lebih realistik.

Hanya saja, bentuk kartun yang sederhana dan cenderung jauh dari bentuk-bentuk realistis ini juga membawa stigma yang kurang menguntungkan: cap bahwa film kartun adalah hanya untuk konsumsi anak-anak saja.  Hal ini terutama disebabkan bentuk-bentuk kartun yang kebanyakan sederhana dan lucu, seperti karakter Mickey Mouse, Donald Duck atau Totoro.

Di Indonesia misalnya, seorang dewasa yang gemar menonton film animasi/film kartun biasanya akan digoda karena dianggap masih belum dewasa karena masih suka melihat film animasi tadi.  Hal ini bisa jadi membuat eksplorasi film kartun/animasi sebagai sebuah medium menjadi lebih terbatas.

Sebenarnya permainan sejauh mana tingkat penyederhanaan dari gambar kartun yang kita buat bisa sesuaikan dengan kebutuhan dan konteks dari untuk tujuan apa animasi yang akan kita buat.  Jika kita menggambar sebuah dunia dengan gaya yang sangat kartun, maka jika benda-benda mati yang ada di dalam dunia tersebut tiba-tiba melompat dan menyanyi, maka hal itu masih bisa kita percayai.  Tetapi jika kita ingin menampilkan kompleksitas serta kenyataan dari dunia ini, maka ada tingkat kerealistikan akan memainkan peran yang cukup penting.

Misalnya begini.  Saat Walt Disney mulai menganimasikan Snow White and the Seven Dwarves, mereka menemukan satu fakta bahwa saat mereka menggarap para kurcaci, yang dipentingkan di sana adalah karakterisasi dari masing-masing kurcaci tadi.  Karena memiliki penampilan yang sangat kartun apalagi setiap karakter kurcaci cenderung harus berekspresi secara berlebih-lebihan (exaggerated), maka gerakan-gerakan yang dibuat memiliki ruang jeda yang cukup luas bagi kemungkinan kesalahan gerakan.  Tetapi saat menggarap Snow White yang notabene terlihat sebagai sosok putri dengan unsur manusia yang tinggi, maka seluruh gerakan yang dibuat harus benar-benar mendekati gerakan manusia.  Jika tidak, maka gerakan yang ‘salah’ tadi akan membuat Snow White menjadi aneh (out of character).

Bagaimana kita menentukan tingkat penyederhanaan dalam kartun ini menjadi penting karena para pencerita dalam berbagai media telah mengetahui bahwa cara untuk melibatkan pemirsa adalah dengan meningkatkan tingkat identifikasi pemirsa terhadap karakter dalam cerita.  Dan karena identifikasi pemirsa pada karakter-karakter dalam cerita merupakan spesialisasi kartun, maka film kartun/animasi memiliki keuntungan dalam mendobrak masuk ke dalam budaya populer.

Animasi dan Nilai-nilai Kemanusiaan/Human Interest
Melihat potensi animasi yang dengan kekuatan kartunnya mampu melintasi batas-batas usia, gender, ras hingga Negara, maka media ini bisa pula dimanfaatkan untuk menyentuh tema-tema yang tidak biasa bahkan cenderung tabu tanpa menimbulkan gejolak jika hal yang sama disampaikan oleh media yang lebih realistik.  Salah satunya adalah film animasi dengan tema-tema yang terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (human interest).

Mungkin salah satu contoh paling popular adalah film seri animasi The Simpsons ciptaan Matt Groenig.  The Simpsons tampaknya lebih dikenal sebagai sebuah animasi hiburan bagi orang dewasa dengan humor-humor ‘berat’ dan sarkasme-nya melalui pencitraan sebuah keluarga dari kalangan menengah Amerika yang terbilang ‘cacat’.  Dan jika diamati lebih seksama, The Simpsons bisa dibilang merupakan potret sekaligus kritik-kritik tajam terhadap nilai-nilai budaya Amerika yang dikenal dengan ‘The American Way’-nya melalui karakter keluarga disfungsional di sana: ayah yang tidak kompeten, anak laki-laki yang semaunya sendiri, anak perempuan yang merasa dirinya pintar dan unggul dari yang lain hingga ibu yang berusaha membuat kehidupan keluarganya seperti tidak terjadi apa-apa.  Melalui interaksi antar anggota keluarga, juga dengan lingkungan pergaulan masyarakatnya, kita disuguhi beragam kritisi tajam dari kehidupan sosial keluarga modern masa kini.  Lucu tetapi sekaligus menggigit.

Contoh lainnya adalah The Bead Game (1977), karya Ishu Patel.  Film animasi The Bead Game bertutur mengenai kecenderungan mahkluk hidup yang selalu bersaing dan berperang satu dengan lainnya, entah itu untuk bertahan hidup ataupun memuaskan nafsu akan kekuatan dan kekuasaan.  Makhluk hidup di sini mulai dari sel terkecil, hewan hingga manusia.  Dengan tema yang terbilang berat, cara penyampaian pesan dilakukan dengan permainan animasi menggunakan butiran kacang (bead) yang menggambarkan proses ‘peperangan’ tadi yang selalu berakhir dengan kehancuran total dari dunia.  Unsur permainan visual dalam The Bead Game ini cenderung tinggi dan mendekati abstraksi.  Uniknya, animasi di sini dibuat dengan pendekatan stop motion, menggunakan rangkaian bead (biji-bijian) sesuai judul animasi itu sendiri.

Pemanfaatan dari animasi untuk menyampaikan tema-tema mengenai hubungan manusia yang cenderung tabu atau sensitif untuk ditampilkan juga bisa dilihat pada sebuah antologi berjudul ‘Byeol Byeol Iyagi: If You were Me, Anima Vision’.  Antologi ini merupakan kumpulan film animasi pendek yang bertutur mengenai ketidak adilan serta diskriminasi yang ternyata seakan-akan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan kerap terlontar secara tidak sadar.  Dalam antologi ini, ditampilkan beragam diskriminasi terhadap kalangan penderita cacat tubuh, orang dengan kelainan tampilan fisik, ketidakseimbangan perlakuan terhadap wanita dan juga pada kaum imigran di Korea.  Dalam segmen animasi berjudul ‘At Her House’ misalnya, di sana tergambar bagaimana perlakuan yang secara umum diterima kaum wanita karena pandangan umum mengenai perannya sebagai ibu rumah tangga dan juga sekaligus wanita karier/bekerja.  Kisah sederhana ini terpusat pada pasangan suami istri muda yang sama-sama bekerja dan baru memiliki anak bayi.  Saat harus terpaksa tinggal di rumah untuk mengurus anak mereka yang masih bayi, sang istri di sini ternyata seakan-akan tidak mendapat dukungan atau perhatian dari sang suami yang tampaknya merasa bahwa itulah kewajiban seorang istri dan tidak perlu merasa untuk turun tangan memberikan bantuan membereskan rumah.
 
Ketidakpedulian suami pada kondisi istrinya ini makin kontras dengan tindak-tanduknya saat kembali pulang ke rumah, meletakkan pakaian ganti secara sembarang di lantai serta memilih untuk langsung menonton televise daripada membantu istrinya membereskan rumah.  Tidak ada tokoh jahat dalam kisah ini, tetapi persepsi suami bahwa mengurus kondisi rumah adalah sepenuhnya tanggung jawab istri seolah-olah menjadikan sosok suami di sini sebagai peran antagonis karena ketidak pedulian atau ketidaktahuannya akan kejadian tidak menguntungkan yang telah dialami sang istri sepanjang hari itu.  Sebuah potret yang jujur dan apa adanya.   

Menariknya adalah melihat bagaimana kisah-kisah yang sebenarnya tidak enak di sini bisa ditampilkan secara menyentuh, tidak membuat kita marah terhadap ‘ketidakadilan’ dalam perlakuan sosial masyarakatnya tetapi justru membuat kita merenung dan tergerak untuk berbuat yang lebih baik bagi lingkungan kita.   Karena apa yang ditampilkan dalam antologi animasi ini adalah sebuah potret yang jujur tentang apa yang terjadi di lingkungan kita sendiri.

Memang, bagaimanapun tetap tidak mudah dalam mengangkat tema-tema yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam format animasi.  Meski secara bentuk medium animasi telah memiliki kelebihan-kelebihan karena sifatnya yang berbasis pada dunia kartun yang lebih mudah untuk diterima masyarakat luas, tetap dibutuhkan kebijakan dan kehati-hatian dalam pengungkapannya.  Pemilihan tema serta pendekatan seperti apa yang ingin digunakan saat membuat film animasi dengan tema-tema seperti ini akan memegang peran yang sangat penting.  Ada tema-tema yang lebih masuk jika disampaikan melalui pendekatan humor dan komedi tetapi sarat akan unsur-unsur satir, ada juga tema yang lebih mengena dan menyentuh jika disampaikan melalui pendekatan yang lebih realistis.  Juga bagaimana menentukan tentang bagaimana kisah tadi diceritakan (plot dan storytelling).  Apakah menggunakan pendekatan langsung (straight to the point) ataukah dengan sindiran halus, ataukah dengan jalan memutar dan pemanfaatan unsur simbolisasi? Di sinilah, kepekaan dari seorang sutradara dan animator akan memegang peran yang cukup krusial. 

Penutup
Media animasi, seperti halnya media-media lainnya memiliki cakupan pemanfaatan yang hampir tidak terbatas.  Didukung dengan dasar medianya yang berawal dari gambar dan kartun membuat animasi memiliki beberapa keunggulan, terutama dalam bagaimana animasi bisa dengan mudah diterima oleh beragam kalangan masyarakat dan kemampuannya untuk survival, bertahan untuk berada di dalam pikiran kita dalam jangka waktu yang sangat lama.  Maka akan sangat disayangkan jika potensi seperti kemudian jatuh terjebak stigma-stigma yang akhirnya membatasi kemungkinan eksplorasi media tersebut.

Salah satu potensi yang bisa dimanfaatkan adalah menggunakan media animasi untuk merambah tema-tema kemanusiaan/human interest.  Melihat kondisi sosial masyarakat kita saat ini, tampaknya menjadi hal yang penting untuk mengedepankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan tadi sebagai potret yang jujur terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita, mengangkat dan menyentuh persoalan-persoalan yang kritis, tetapi tetap berhati-hati dalam penyampaiannya karena yang dituju adalah kondisi yang lebih baik.  Media animasi tampaknya memiliki potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk itu, dan sekarang tinggal bagaimana kita, terutama kalangan animator untuk menyikapinya.  Terima kasih.


Ditulis dalam sejarah kartun

Hello world!

Maret 31, 2009
1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ditulis dalam Uncategorized

About author

bastard

Cari

Navigasi

Kategori:

Links:

Archives:

Feed